Pages

Jumat, 26 Agustus 2011

ETIKA MUSLIM DALAM KEHIDUPAN


  1. Etika Niat:
Niat sangat urgen dalam kehidupan, sebagai penentu amal diterima atau ditolak, menjadi mulia atau hina, berpahala atau dosa tergantung dari niatnya. Niat hendaknya diperbaiki setiap saat, niat bukan sekedar lintasan hati atau pun ucapan lisan, tetapi merupakan kebangkitan hati kepada amal yang baik dan mendatangkan manfaat. Perbuatan yang mubah bernilai ibadah dengan niat, namun yang haram bagaimana pun juga tidak akan berubah menjadi ketaatan meskipun dibungkus dengan niat baik.
  1. Etika kepada Allah Ta’ala:
Senantiasa mensyukuri nikmatAllah, malu kepada-Nya jika cenderung berbuat makshiat, segera bertaubat bila terlanjur salah, bertawakkal dengan sungguh-sungguh, hanya kepada-Nya mengharap rahmat dan nikmat, berbaik sangka bahwa Allah pasti menepati janji-Nya dan melaksanakan ancaman-Nya. Semakin konsisten seorang hamba dalam menjaga etika ini, akan semakin tingggi kedudukan dan kemuliaannya dihapan Allah dan manusia, sehingga berhak mendapat naungan dan pemeliharaan Allah serta menjadi sasaran curahan rahmat dan nikmat-Nya.
  1. Etika kepada Al-Qur’an:
Beriman dengan kesuciannya, meyakini kebenarannya, berhukum dengannya, berpedoman dengannya, mengikuti bimbingannya, melaksanakan ajarannya, berakhlak dengannya, memulyakan bacaannya, berusaha untuk menjadi ahlullah yang senantiasa membacanya dengan tartil, kusyu’, tadabbur, suara baik dan tadzakkur (mengambil pelajaran darinya).
  1. Etika Kepada Rasulullah:
Ta’at dan meneladani Rasulullah SAW, mencintainya, mencintai siapa saja yang dicintainya, mengagungkan namanya dengan shalawat dan salam, membenarkan ajaran yang dibawanya, menghidupkan sunnahnya, merendahkan suara di kuburannya, mencintai orang-orang yang shalih karena Rasulullah mencintai mereka dan membenci orang-orang fasik karena mereka dibenci Rasulullah SAW.
  1. Etika terhadap Diri Sendiri
Senantiasa membina dirinya sendiri dengan jalan perbaikan diri dan penyuciannya, karena itulah kunci kebahagiaan dan keselamatan nya di dunia dan akhirat, dan kecelakaan dan kesengsaraan dirinya bersumber dari kerusakan diri dan kekotoran jiwanya. Yang bisa menyucikan dirinya adalah iman dan amal shalih sedang yang mengotori dan merusak dirinya adalah kekufuran dan kemakshiatan. Jalan yang ditempuh untuk membina dirinya adalah:
    1. Taubat: Melepaskan diri dari semua dosa dan kemakshiatan, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulangi serta menggantinya dengan amal shalih.
    2. Muroqobah: Mengkondisikan dirinya selalu dalam pengawasan Allah, merasa bahwa Allah selalu melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianaya, memperhatikan semua perbuatannya serta mengamati gerak-gerik jiwanya. Dengan demikian ia akan merasa tentram ketika mengingat Allah, ketika menjalankan ketaatan, selalu berserah diri kepada-Nya (islamul wajhi).
    3. Muhasabah: Introspeksi, mengitung-hitung diri dan evaluasi terhadap hidup dan amal perbuatannya. Jika menemukan dirinya menelantarkan kewajiban segera mencela dirinya sendiri dan melaksanakan kewajiban tadi saat itu juga, jika menelantarkan yang sunnah ia akan menggantinya dengan fadhailil a’mal lainnya, bila menemukan dirinya melakukan dosa, segera taubat dan istighfar, menyesali diri dan berazam untuk tidak mengulanginya bahkan ia segera berbuat kebaikan yang bisa menghapuskannya. Seperti pedagang, memandang kewajiban sebagai modal pokok, yang sunnah sebagai keuntungan serta dosa dan makshiat sebagai kerugian dan kebangkrutan.
    4. Mujahadah: Berjuang, bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsunya, karena nafsu cenderung pada kejelekan, kemalasan serta lari dari kebaikan. Memobolisir seluruh kekuatannya untuk memerangi nafsunya, melawan kemalasan dengan kesemangatan dan kesungguhan, kejelekan dengan kebaikan, sehingga hatinya menjadi tentram dan jiwanya menjadi suci karenanya.
  1. Etika Kepada Sesama Manusia:
    1. Etika terhadap orang tua:
Orang tua mempunyai hak istimewa kepada kita, maka kita wajib berbakti, taat dalam kebaikan, merendahkan diri di hadapan keduanya, berbicara dengan hormat dan berbuat baik kepada keduanya. Bukan hanya karena jasa kedua orang tua kepada kita, tetapi juga karena perintah Allah dalam al-Qur’an. Ibu mempunyai hak tiga kali lipat lebih istimewa dari bapak. Berjihad harus seiizin ibu bapak. Bahkan orang tua yang sudah meninggal masih mempunyai hak atas anaknya diantaranya: mendo’akan, memintakan ampunan, menunaikan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya serta menyambung silaturrahim dengan handai tolannya.
    1. Etika terhadap anak-anak:
Mencarikan calon ibu yang baik, menamakannya dengan nama yang baik, mengakikohi pada hari ketujuh dari kelahiran, menghitan, mengasihi dan adil kepada semuanya, bersikap lemah-lembut, menjaga badan – akal dan jiwanya,  menafkahi dengan yang halal, mendidik dengan baik, menanamkan ajaran Islam, melatih ibadah, menikahkan bila dewasa, membantu kemandirian ekonomi keluarganya.
    1. Etika terhadap saudara:
Etika terhadap saudara sama dengan etika terhadap ayah atau anak. Kepada kakak seperti etika kepada ayah dan kepada adik seperti kepada anak.
    1. Etika terhadap suami istri:
Masing-masing ada hak dan kewajiban timbal baik, Diantara hak dan kewajiban bersama adalah: Amanah (saling dapat dipercaya) tidak saling mengkianati, Mawaddah (cinta kasih yang tulus) dan tawaatsuq (saling percaya) tidak boleh meragukan kejujuran, nasihat dan keikhlashannya.
Etika umum yang harus dilaksanakan keduanya adalah: Lemah lembut dalam pergaulan, wajah berseri, ucapan santun, penghargaan dan penghormatan. Kemudian suami harus memperlakukan istrinya dengan baik, mengajarkan agama dan memelihara aqidahnya, menyuruh istri melaksanakan perintah agama dan berakhlak mulia, berlaku adil dan memelihara rahasia keluarga. Seorang istri hendaknya taat kepada suami, menjaga kehormatan suaminya dan tetap berada di rumah kecuali dengan izin suaminya.
    1. Etika terhadap sanak kerabat
Etika terhadap sanak kerabat yang lebih tua seperti kepada ibu bapak, terhadap yang lebih muda seperti kepada anak atau adik, dalam segala hal, menyayangi mereka, menyambung tali persaudaraan, menghibur, membantu, setia dsb.
    1. Etika kepada tetangga
Tetangga mempunyai hak-hak yang harus kita tunaikan diantaranya: Tidak menyakitinya dengan ucapan dan perbuatan, berbuat baik kepadanya, memberikan bantuan, menjenguknya bila sakit, mengucapkan selamat bila bahagia, menghiburnya bila sedih, santun dalam perkataan, membimbingnya untuk kebaikan agama dan dunia, bersikap dermawan kepadanya, menghormatinya serta memelihara hak-haknya.
    1. Etika terhadap muslim lainnya
Menunaikan hak-hak dan etika kepada sesama muslim adalah qurbah dan bagian dari ibadah, diantaranya: Mengucapkan salam bila bertemu, mendo’akan bila bersin dan mengucapkan hamdalah, menjenguk serta mendo’akannya dikala sakit, menyaksikan jenazahnya, menasehatinya bila diminta, mencintainya dalamm kebaikan, menolong, memebantu dan mendukungnya, tidak menimpakan keburukan atasnya, tawadhu’ dan rendah hati kepadanya, tidak menggunjingkannya atau mendiamkannya lebih dari tiga hari, tidak mencaci, mendengki, menipu dan mengkhianatinya serta mempergaulinya dengan baik. Menghormatinya, memposisikannya seperti diri sendiri serta memaafkan kesalahannya.
    1. Etika terhadap orang kafir
Berdasarkan nilai aqidah Islam bahwa Islam telah menghapus syariat semua agama, dan hanya Islam yang diterima Allah, maka kepada orang kafir (non muslim) ada beberapa etika yang harus diterapkan, diantaranya: Mengingkari kekafirannya, tidak meridhoinya, membencinya karena Allah, tidak memberikan loyalitas dan kasih sayang kepadanya, berbuat adil dan baik selama ia tidak memerangi Islam dan ummatnya, menyayanginya dengan kasih sayang umum seperti kepada seluruh makhluk, tidak menikahkan wanita muslimah dengannya, boleh memberikan hadiah kepadanya, tidak mendzaliminya, tidak memulai salam kepadanya, menyempitkan ruang geraknya serta tampil beda dengannya.
    1. Etika terhadap hewan
Hewan bagian dari makhluk Allah yang harus disayangi dan dihormati dengan hak-hak berikut: Memberinya makan dan minum, menyayanginya (tidak menyiksanya), menyembelihnya (bila diperlukan) dengan baik, dibolehkan membunuh binatang-binatang yang membahayakan, mengeluarkan zakatnya bila sampai nishab (ternak) dan jangan ampai karenanya melalaikan dari taat kepada Allah.

khutbah jum'at di bulan ramadhan


KHUTBAH JUM’AT
Menyambut Puasa Ramadhan
Oleh: Mochamad Lutfi Andriansa,S.Pd.I
Masjid Al-Ikhtiar Gontor Utara, 5 Ramadhan 1432/5 Agustus 2011

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي نوّر قلوبَ المؤمنين بالمعرفة فاطمأنّت قلوبُهم بالتوحيد، أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده لاشريك له يعْلَم ما في السماوات وما في الأرض وهو الرقيب المَجِيد، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي أنَارَ الوجودَ بنور دينه وشريعته إلى يوم الوعِيد. اللّهمّ صلِّ وسلّم على محمدٍ وعلى آله وأصحابِه الذين آمنوا وعملوا الصالحاتِ إلى يوم المَوعُود، أما بعد.
أُوصِيكم وإيّاي بتقوى الله فقد فاز المتقون: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
            Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan semesta alam, yang telah mencurahkan seluruh kenikmatan, rizki dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluknya, baik yang berupa kesehatan maupun kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia dalam rangka menunaikan kewajiban ibadah sholat jum’at.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, sahabat, keluarga, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Melalui mimbar jum’at ini kami mengajak saudara-saudara sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti yang benar, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan juga taqwa yang menumbuhkan kesadaran diri untuk terus berbuat baik, karena pada hakikatnya kita adalah makhluk pilihan, dimuliakan Allah serta memperolah kedudukan yang tinggi sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini.

Kaum Muslimiin, sidang Jum’ah yang berbahagia!
            Syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT bahwa berkat rahmat dan karuniaNya kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu di bulan Ramadhan yang mulia penuh barakah ini. Oleh karena itu, hendaknya kita menyambut dan mengelu-elukan kehadiran bulan yang suci dan hari yang besar ini dengan berbagai kegiatan ibadah, tidak saja dengan tenaga dan fikiran, tetapi juga dengan harta benda. Di siang hari kita laparkan nafsu perut dan syahwat kita, dan di malam hari kita sibukkan diri kita dengan Shalat Tarawih, pengajian-pengajian, ceramah-ceramah dan lain sebagainya. Juga kita bayarkan zakat fitrah yang diperintahkan Allah untuk menolong saudara-saudara kita yang tidak mampu.
            Dan kemudian mulai nanti sore sesudah berbuka puasa ataupun sesudah datang waktu maghrib, akan kita dengarkan gemuruhnya orang meneriakkan takbir, tasbih dan tahmid dalam mengagungkan, mensucikan dan memuja-muji keagungan asmaul husna Allah ‘azza wa jalla. Teriakan yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam yang menggetarkan jiwa setiap muslim. Semuanya merasa bahwa dirinya lemah, merasa dirinya kotor, merasa dirinya kecil. Sedang Yang Kuat, Yang Kuasa, Yang Suci dan Yang Besar hanyalah Dia, Dialah Allah SWT. Hampir semua manusia tertunduk mengakui akan kebesaranNya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang meneriakkan kata, dengan suara lantang, meneriakkan takbir, tasbih dan tahmid dengan air mata berlinang mengalir dari pipinya bersamaan dengan getaran jiwanya. Semua kaum muslimin menantikan hari ini dengan hati trenyuh, harap-harap lemas atas ampunanNya dan keridloanNya, Subhanallah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Puasa bulan Ramadhan marupakan rukun Islam yang keempat, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 183).
Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai taqwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari antara amal-amal ibadah lainnya. Firman Allah dalam hadits qudsi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:
«كُلُّ عملٍ ابنِ آدمَ لَهُ، إِلاّ الصِّيام فإنّه لِي وأنا أُجزِي بِه »
"Semua amal perbuatan anak Adam (manusia) itu membawa manfaat bagi dirinya sendiri kecuali puasa (berpuasa); sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."
Makna ‘berpuasa itu untuk-Ku’ adalah bahwa berpuasanya seseorang itu hanya diketahui hakikatnya oleh Allah SWT. Barangkali tidak ada ibadah se-private berpuasa. Sebab, siapakah yang mengetahui bahwa seseorang itu berpuasa selain Allah SWT dan dirinya sendiri? Misalnya, mungkin saja seseorang di siang hari nampak lesu, lemah dan tak bertenaga; yakni, sedang melakukan puasa. Namun, hal ini bukan jaminan bahwa ia benar-benar melakukan ibadah puasa. Sebab mungkin saja ia melakukan sesuatu yang membatalkan puasa ketika sedang sendirian, misalnya dengan meneguk segelas air. Na’udzu billahi min dzalik.

Hadirin sidang Jum’ah yang saya hormati!
Jika Allah SWT telah menjadikan sepuluh hari pertama bulan Ramadlan hari-hari yang penuh dengan rahmat. Dan menjadikan sepuluh hari kedua dari bulan Ramadlan hari-hari yang penuh dengan ampunan serta menjadikan sepuluh hari ketiga dari bulan puasa hari-hari dimana-mana segenap kaum muslimin diselamatkan dari api neraka. Tidak hanya sampai di situ saja, Allah melimpahkan rahmat dan kasihNya kepada kita karena Allah juga mengaruniakan untuk manusia satu malam pada malam-malam yang sepuluh pada akhir bulan Ramadlan yaitu malam lailatu-l-qodr. Karena itu, hendaknya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya. Memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah; shalat, membaca al-Qur’anul karim, dzikir, doa, istighfar dan taubat yang sebenar-benarnya. Apabila kita menjalankan ibadah pada malam itu, maka kita dijanjikan akan mendapat ganjaran sebesar pahala kita beribadah selama seribu bulan. Bayangkan, 1000 bulan kurang lebih sama dengan 80 tahun. Umur kitapun belum tentu sampai 80 tahun. Subhanallah, Alangkah Maha Pemurahnya Allah itu……..!
Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kasturi.” (Hadits Muttafaq alaih). Dan sabda Nabi SAW:
(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)) متفق عليه.
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih).
Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat antara lain: Mengimani dengan benar akan kewajiban ini dan mengharap pahala karenanya di sisi Allah ta’ala.

Hadirin sidang jum’ah yang kami muliakan!
Selama Ramadhan, Allah Azza wa Jalla mengganti ganjaran amalan sunnah dengan ganjaran seperti amalan wajib. Sedangkan seluruh amalan wajib ganjarannya dilipatgandakan beratus kali lipat. Dalam sebuah keterangan dari Imam Ali disebutkan bahwa membaca satu ayat Alquran di bulan ini ganjarannya seakan-akan mengkhatamkan al-quran. Hadiah memang biasanya diberikan untuk menggembirakan anak-anak kecil, tak mengapa kita bergembira dengan ganjaran dan pahala dari Allah di bulan ini, tapi tak cukup hanya dengan pahala dan ganjaran, sebab kita perlu yang lebih utama dari itu. Maka jadikanlah bulan Ramadhan sebagai salah satu sarana bagi kita untuk memperbaiki mutu diri kita. Apa yang harus kita perbaiki? Salah satu jebakan dalam hidup di dunia ini adalah kita merasa aman dan bangga dengan aksesoris dunia, merasa senang dengan keindahan penampilan, merasa hebat dengan mengeluarkan biaya mahal untuk memperindah rumah dan kendaraan kita.
Mengapa banyak umat Islam yang tak berubah dengan bulan Ramadhan? Karena kita masih salah dalam menyikapi bulan Ramadhan. Kita lebih banyak memikirkan hal-hal yang tak diperlukan. Sibuk dengan makanan dan barang-barang, hingga saat datang Ramadhan justru menjadi lebih konsumtif.
Pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan kita dianjurkan i'tikaf, menjerit kepada Allah memohon ampunan karena di dalamnya segenap kaum muslimin diselamatkan dari siksaan api neraka. Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. menyatakan: "Apabila sudah masuk sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) maka Rasulullah SAW selalu menghidup-hidupkan malam-malam itu (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya serta mengikatkan sarungnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Kenyataannya, sepuluh hari terakhir masjid semakin sepi, shofnya semakin maju karena kita kebanyakan berkumpul di pasar-pasar. Padahal malam terakhir puncak Ramadhan itu kita dianjurkan bertakbir membesarkan Allah, tapi sedikit sekali di antara kita yang bertakbir, kebanyakan sibuk mengurus hidangan untuk lebaran. Karenanya tak usah heran, ujung-ujungnya Ramadhan tak banyak mempengaruhi perilaku kita karena kita salah menyikapinya. Tapi kita tak boleh lemah oleh sesuatu yang telah berlalu, kita masih mempunyai kesempatan. Kita harus menentukan apa yang akan diprioritaskan untuk dilatih di bulan Ramadhan ini. Di antaranya adalah, manajemen waktu kita harus semakin terkendali dengan baik dan amal ibadah kita harus semakin meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Lantas apa makna ketika seseorang yang sedang menjalani berpuasa tetap bertahan untuk tidak membatalkan berpuasa dengan minum, misalnya, padahal ia benar-benar haus? Tidak lain hal ini karena ia menyadari bahwa berpuasa merupakan kewajiban dari Allah SWT. Ia menyadari bahwa Allah SWT Maha Tahu akan segala isi hati dan seluruh perbuatan manusia, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia yakin bahwa Allah SWT mengawasinya di mana saja ia berada. Tak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya bahwa segala perbuatannya itu akan dihisab oleh Allah SWT. Dengan demikian, sekalipun tidak ada seorangpun yang mengetahui perilakunya, ia tetap berpegang teguh kepada perintah Allah SWT untuk tetap menjalani puasa.  Semoga Allah Yang Maha Agung memberikan kemampuan kepada kita untuk menyikapi Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya.

Hadirin sidang jum’ah yang kami muliakan!
Satu bulan penuh kita bergelimang dalam berbagai macam ibadah dan amal sholeh. Mudah-mudahan semua pengabdian, amal ibadah kita selama satu bulan itu betu-betul diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan balasan pahala dengan semestinya. Semoga nilai-nilai amal ibadah kita itu bisa terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari tidak hanya bagi kita sendiri, tapi juga masyarakat sekitar kita dan bagi agama kita. Amien amien. Yaa Mujiiba-s-saailiin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذِّكر الحكيم، أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين مِن كل ذنب فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua
الحمد لله الذي أرسل رسول بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره الكافرون. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللّهمّ صلِّ وسلّم على محمدٍ وعلى آله وأصحابِه ومَن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين. فيا أيها المؤمنون اتقو االله فى جميع الحالات وقال عز وجل: إن الله وملائكتَه يصلّون على النبى يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.
اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آل محمد وسلّم ورضي الله تعالى عن كل صحابة رسول الله أجمعين والحمد الله رب العا لمين. اللهم اغفرللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك أنت سميع قريب مجيب الدعوات ياقاضي الحاجة. اللهم أعنّا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، اللهم حبّب إلينا الإيمان وزيّنه في قلوبنا وكرّه إلينا الكفر والفسوق والعصيان. اللّهم إنّك تعلم أنّ هذه القلوب قد اجتمعت على محبّتك، والتقت على طاعتك، وتوحّدت على دعوتك وتعاهدت على نصرة شريعتك.
اللهم أفرغ علينا صبرا وثبت أقدامنا وانصرنا على القوم الكافرين. اللهم اجعل هذا بلدا آمنا و ارزق أهله من  الثمرات من آمن منهم بالله و اليوم الآخر. اللهم أدخلنا مدخلَ صدقٍ و أخرِجنا مخرجَ صدقٍ و اجعل لنا مِنْ لَدُنك سُلطانا نصيرا. ربّنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار والحمدلله رب العالمين.
عباد الله! إن الله يأمر بالعدل الإحسان و إيتاء ذى القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغى يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكُرْكم و اشكُرُوهُ على نِعَمه يزِدْكم و الله أكبر و الله يعلم ما تصنعون. أقم الصلاة.....!