Pages

Kamis, 06 September 2012

BAHAYANYA SIKAP MENGKAFIRKAN



“ Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara “ (QS.Hujurat : 10)


Tanda keislaman seseorang adalah pengakuan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad itu adalah Utusan Allah. Oleh sebab itu selama seseorang itu beriman kepada Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad maka dia itu adalah seorang muslim. Hal ini terbukti dalam sebuah hadis yang menyatakan : “Barangsiapa yang mengucapkan “ Laa Ilaaha illa Allah /Tiada Tuhan kecuali Allah “dan dia mati atas keadaan yang demikian, maka dia akan dimasukkan ke dalam surga “. Saya (abu dzar ) bertanya : Walaupun dia itu melakukan zina atau mencuri ? Rasulullah menjawab : Ya, walaupun dia itu berzina dan mencuri “.saya bertanya lagi : “ Walaupun dia itu berzina atau mencuri ? Rasululah menjawab : Ya, walupun dia itu berzina atau mencuri. Saya bertanya lagi : Walaupun dia itu berzina atau mencuri ? Rasulullah menjawab : “ Ya , walaupun dia itu berzina atau mencuri “. ( hadis sahih riwayat Bukhari ). Iman kepada Allah dan iman kepada kerasulan nabi Muhammad merupakan bukti keislaman seseorang, dan pengingkaran kepada Allah sebagai Tuhan dan pengingkaran kepada Nabi Muhammad sebagai rasul itu merupakan kekafiran. Sebab itu pengurangan kepada syahadat merupakan kekafiran  dan penambahan kepada dua kalimat syahadat juga merupakan kekafiran, sebagaimana kelompok yang meyakini adanya nabi setelah nabi Muhammad sallahualaihi wasallam. Hadis yang lain menyatakan : “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, menganut kiblat kita (ka’bah), shalat sebagaimana shalat kita, dan memakan daging sembelihan sebagaimana sembelihan kita, maka dialah orang Islam. Ia mempunyai hak sebagaimana orang-orang Islam lainnya. Dan

ia mempunyai kewajiban sebagaimana orang Islam lainnya”.( Bukhari ) 



Oleh sebab itu para ulama ahlussunah wal jamaah sangat berhati-hati dalam mengkafirkan seseorang, atau suatu kelompok, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis : “Siapa saja seseorang yang mengatakan kepada saudaranya, “hei kafir” maka julukan itu akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Jika orang yang dituduh itu benar, maka sesuai dengan

apa yang dituduhkan, tapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada yang melemparkannya.” (HR. Muslim). Di dalam hadits yang lain Rosululloh  juga bersabda, “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, kecuali akan kembali kepada si penuduh jika orang yang dijuluki itu tidak demikian keadaannya.” (HR. Bukhori)



Rasulullah melarang umatnya untuk mudah menuduh seseorang dengan kafir atau munafik. Rasulullah dalam sebuah hadis bersabda : “Tahanlah diri kalian (jangan menyerang) orang ahli ‘Laa ilaaha illallah’ (yakni orang Muslim). Janganlah kalian mengkafirkan mereka karena suatu dosa”. Dalam riwayat lain dikatakan : “Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu amal ( perbuatan)”.( Hadis dari Abdullah bin Umar diriwayatkan oleh Thabrani ). Demikian juga dikisahkan bahwa “Ketika Nabi saw. berdiri sholat dan bertanya: Dimanakah Malik bin Adduch-syum? Lalu dijawab oleh seorang: Itu munafiq, tidak suka kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka Nabi saw. bersabda: Jangan berkata demikian, tidakkah kau tahu bahwa ia telah mengucapkan ‘Lailahailallah’ dengan ikhlas karena Allah. Dan Allah telah mengharamkan api neraka atas orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas karena Allah”.( Dari Itban bin Malik diriwayatkan oleh Bukhari Muslim )



Sahabat Usamah bin Zaid ra. Menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah membawa kami pada satu peperangan, pada pagi hari kami menyerbu al-Huraqaat (nama sebuah kabilah) dari kabilah Juhainah. Maka aku bertemu dengan seorang lelaki lalu dia berkata: “Laa ilaha illallah” kemudian aku menusuknya (membunuhnya) . Akan tetapi aku merasa ada sesuatu dalam hatiku dari kejadian itu, lalu aku menceritakannya kepada Rasuliullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka baginda berkata: “Apakah dia telah mengatakan Laa ilaha illallah kemudian kamu membunuhnya?” Aku menjawab: “Ya wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mengatakan hal itu hanya karena takut kepada pedangku. Baginda bertanya (menegaskan kesalahan tindakan Usamah): “Mengapa kamu tidak membelah dadanya sehingga kamu mengetahui apakah benar-benar dia mengatakannya (dengan jujur) atau tidak?”. (HR. Muslim)



Imam al-Ghazali  dalam kitab “Al-Iqtishad fil ’tiqad” berkata : “ Sesuatu yang patut kita berhati-hati adalah masalah pengkafiran, selagi masih ada jalan untuk berhati-hati. Karena menghalalkan darah dan harta orang yang shalat menghadap kiblat dan yang menyatakan kalimat “Laa ilaaha illalloh” adalah suatu kesalahan “.

Imam Abu Hanifah (pendiri fiqih mazhab Hanafi ) dalam kitab “Fiqh al-Akbar” berkata : “ Kita tidak boleh mengkafirkan seorang muslim dengan setiap dosa, meskipun dosa besar. Kecuali ada unsur menganggap halal maksiat itu. Kita juga tidak menghilangkan akar iman darinya, dia masih disebut orang beriman secara hakiki atau seorang mukmin yang fasik (tetapi) tidak kafir.”. Imam Abu Ja’afar al-Thahawi juga berkata : “ Kita tidak mengkafirkan seorangpun ahlul kiblat karena dosa-dosa yang dilakukan, selama dia tidak menghalalkan perbuatan dosa tersebut.”.


Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga menyatakan:” Namun apabila pembuatnya menganggap halal

perbuatannya, maka mereka termasuk kafir karena statusnya telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta keluar dari agama. Apabila mereka tidak menganggap halal perbuatan dosanya, maka mereka tidak dikafirkan, tetapi mereka dianggap seorang yang lemah imannya...”. Imam Ibnu Abil ‘Izzi ‘Abdis Salam al-Hanafi berkata : “ Ketahuilah –semoga Allah merahmati kamu- bahwa masalah pengkafiran merupakan masalah yang sangat besar fitnah dan musibahnya, banyak perpecahan yang terjadi di dalamnya, berselisihnya hawa nafsu dan pendapat tentangnya dan telah terjadi pertentangan antara alasan-alasan mereka…… Sesungguhnya sebesar-besar bentuk kejahatan adalah menuduh individu tertentu bahwa Allah
tidak akan mengampuninya dan tidak akan merahmatinya, bahkan Allah akan mengekalkannya dalam neraka (karena yang demikian adalah) hukum bagi orang kafir setelah mati “.



Mengkafirkan seseorang yang lain berbeda dengan mengatakan sesat. Kesesatan bukan kekafiran, tetapi penyimpangan dari beberapa ajaran-ajaran pokok baik dalam bidang ibadah seperti masalah fikih atau masalah pemahaman akidah. Seseorang itu dapat saja sesat tetapi tidak kafir, selama dia masih beriman kepada Allah dan Rasulnya. Oleh sebab itu, ulama Ahlusunnah wal jamaah menganggap kelompok Khawarij adalah sesat tetapi bukan kafir, sebab mereka masih beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, hanya saja mereka sesat dalam memahami beberapa ajaran Islam. Demikian juga dengan kelompok Syiah, ulama menyatakan sebagian kelompok Syiah adalah sesat karena mereka berbeda dengan kelompok Sunni baik dalam hal kepemimpinan khulafaurasyidin, kemaksuman iman, dan lain sebagainya, tetapi mereka itu bukan kafir, sebab mereka masih beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad.



Tapi sangat disayangkan sebagian kelompok Syiah mengkafirkan kaum Sunni sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad alQumi : “ Menurut akidah kita bahwa siapa yang mengingkari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan imam-imam setelahnya sama dengan mengingkari kenabian semua nabi-nabi “ ( Risalah I’tikad, hal.103 ). Menurut Syiah, Rasulullah pernah bersabda :“ Imam setelahku adalah dua belas dimulai dari Ali bin Abi Thalib, dan diakhiri oleh alQaim ( oleh yang akan mendirikannya nanti : Mahdi alMuntadzar ), taat kepada mereka seperti taat kepadaku, dan ingkar kepada mereka sama seperti ingkar kepadaku “ ( Biharul

Anwar, jilid 27, hal.61-62).



Sikap

mengkafirkan orang lain tersebut itulah yang dapat mengakibatkan pembunuhan dan peperangan, padahal seorang muslim tidak membolehkan atas pembunuhan orang lain walaupun seseorang itu kafir atau sesat. “ Hilangnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada membunuh seorang muslim “ (Muslim ) “ Siapa yang menolong pembunuhan seorang muslim yang lain walaupun dengan sepotong kalimat, maka pada hari kiamat nanti tertulis kalimat di antara matanya : Orang yang tidak mendapat rahmat Allah “.(Baihaqi ). Tetapi anehnya, sewaktu seorang syiah bertanya kepada ulama mereka, Muhammad bin Babiyah alQumi: Bagaimana pendapatmu tentang membunuh orang bukan syiah ? Beliau menjawab : Halal darahnya dan jika kamu mampu untuk membalikkan lemari ke badannya atau menenggelamkannya ke dalam air, maka lakukanlah ( Kitab Ilalul Syara’I , hal.601 ). Padalah bagi seorang muslim jangankan membunuh, mengacungkan pedang juga dilarang sebagaimana dinyatakan dalam hadis : “ Janganlah kamu mengarahkan senjatamu kepada saudaramu sebab mungkin saja syetan akan melepaskan senjata itu sehingga kamu akan masuk neraka sebab perbuatan tersebut“ ( Muttafaq alaih ). Bagaimanakah akan wujud perdamaian dan ukhuwah jika masih ada yang suka mengkafirkan dan membunuh yang lain ?Fa’tabiru Ya ulil albab (Muhammad Arifin Ismail, kl 5/09/2012 )

Minggu, 20 November 2011

MAKNA SIMBOL ULAR DAN TONGKAT ILMU KEDOKTERAN


http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/idilogo.gif?w=180&h=180Kita pasti pernah atau sering melihat lambang seperti pada gambar di samping. Ya, lambang itu adalah milik organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Selain IDI, masih banyak organisasi lain yang juga menggunakan lambang yang hampir serupa terutama organisasi-organisasi kesehatan seperti IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dan PERDAMI (Perhimpunan Dokter Mata Indonesia). Jika dilihat lebih teliti kita bisa menemukan adanya kemiripan dari lambang-lambang tersebut, yaitu gambar ular yang melilit tongkat (serpent and staff). Sepintas gambar tersebut terlihat sederhana, namun tahukah kita bahwa ternyata ada makna yang istimewa dibalik gambar ular-tongkat tersebut?
Dalam perkembangannya ada dua versi mengenai gambar ular-tongkat tersebut. Versi yang pertama adalah gambar di mana seekor ular yang melilit sebatang tongkat, yang disebut sebagai tongkat Asclepius (The Staff of Asclepius). Sedangkan versi kedua adalah dua ekor ular yang saling melilit dengan sebuah tongkat dan sepasang sayap di atasnya, yang disebut sebagai tongkat Hermes (The Karykeion of Hermes).
Tongkat Asclepius (kiri) dan tongkat Hermes (kanan)
Tongkat Asclepius (kiri) dan tongkat Hermes (kanan)

1. The staff of Asclepios
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/asclepiusrom.jpg?w=178&h=284
Asclepius, God of Healing
Asclepius adalah seorang ilmuwan/dokter dari Yunani yang kemungkinan hidup pada tahun 1200 SM. Asclepius digelari sebagai God of Healing (Dewa Penyembuh) karena kemampuan yang dimilikinya dalam menyembuhkan orang sakit. Menurut mitologi, Asclepius adalah anak dari Apollo dan Coronis.
Ia beroleh pendidikan kedokteran dari Cheiron (seorang centaur) dan dikaruniai kemampuan untuk menyembuhkan (healing) serta membangunkan orang mati. Ia memiliki tiga orang anak perempuan yaitu Meditrine (“medicine”), Hygeia (“hygiene”), dan Panacea (“all healing”). Bersama Asclepius, ketiganya sering dijadikan semacam pilar ilmu kedokteran.
Dalam perjalanan karirnya, Asclepius mendirikan kuil yang disebut Asclepions (Asclepieia). Orang-orang sakit datang dan mendapat pengobatan di kuil tersebut. Mereka dilayani oleh para Asclepiadae (“murid-murid Asclepius”) serta menyerahkan persembahan kepada dewa atas kesembuhan yang mereka peroleh. Pada kuil tersebut juga terdapat banyak ular jinak yang dipelihara sebagai wujud penghormatan kepada Dewa.
Lalu, mengapa ular digunakan sebagai simbol? Ular adalah hewan yang memiliki kemampuan untuk berganti kulit
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/2778292718_1bfc1c1f1f.jpg?w=128&h=180
Infeksi cacing Dracunculus medinensis
setelah periode waktu tertentu, dan hal ini sering dikaitkan dengan “kehidupan/kesembuhan yang baru”. Bisa ular dapat berfungsi sebagai racun namun dapat juga berfungsi untuk mengobati, layaknya obat-obatan (farmako) pada saat ini juga dapat berfungsi untuk menyembuhkan penyakit namun dapat juga menjadi racun. Ular juga melambangkan sifat seorang dokter yang bekerja dengan kehidupan dan kematian.
Selain itu, ular yang digunakan dalam lambang kedokteran kemungkinan ada hubungannya dengan penyakit infeksi cacing Guinea (Dracunculus medinensis). Cacing tersebut menginfeksi kulit sehingga cara penyembuhannya adalah dengan merobek sedikit bagian kulit lalu mengeluarkan cacing infeksius tersebut.
Nah, mengapa tongkat juga dipilih sebagai simbol? Ada beberapa pendapat yang dikemukakan. Tongkat merupakan simbol kemandirian seorang Asclepius dalam bekerja dan mengobati. Tongkat juga bisa berarti “penopang” pada saat seseorang sedang menderita penyakit. Namun demikian, secara bersamaan ular dan tongkat merupakan lambang profesionalisme dan kemandirian seorang dokter.
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/prdtbi1.jpg?w=300&h=191
Asclepius dan praktek kedokteran
2. The karykeion of Hermes/the caduceus of Mercury
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/274px-hermes_ingenui_pio-clementino_inv544.jpg?w=104&h=258
Hermes dan tongkat Caduceus
Agak sedikit berbeda dengan Asclepius, tongkat Hermes dililit oleh dua ekor ular dan memiliki sepasang sayap di ujungnya (karykeion=caduceus=tongkat). Hermes sendiri merupakan tokoh dalam mitologi Mesir, namun namanya tidak secara spesifik dikaitkan dengan ilmu kedokteran. Ia sendiri lebih sering dikaitkan dengan ilmu kimia (alkemia), astronomi, metalurgi hingga sastra. Bahkan istilah alchemist (para ahli kimia) merujuk kepada “anak-anak Hermes”.
Adapun tongkat dengan sepasang ularnya, konon berasal dari legenda ketika Hermes sedang berjalan dan ia melihat sepasang ular sedang berkelahi. Hermes pun mengambil tongkatnya dan memisahkan kedua ular itu, dari situlah muncul simbol tongkat dengan sepasang ular yang melilitnya.
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/us_army_medical_corps_branch_plaque.gif?w=150&h=150
US Army Medical Corps
Lambang kedokteran “versi Hermes” pertama kali digunakan pada tahun 1902 oleh korps kesehatan militer AS. Sejak saat itu ada anggapan bahwa tongkat Hermes sama dengan tongkat Asclepius dan menjadi sering digunakan
secara rancu sebagai lambang kesehatan. Belakangan kerancuan ini dikaji kembali dan diputuskan bahwa lambang kedokteran yang benar adalah tongkat-dan-ular Asclepius, bukan tongkat Hermes. Namun pada kenyataanya masih banyak organisasi kesehatan yang menggunakan tongkat Hermes sebagai simbolnya.
Sebuah riset yang dilakukan oleh Friedlanders (1992) mengemukakan bahwa lembaga-lembaga kesehatan profesional lebih memilih menggunakan tongkat Asclepius sebagai lambangnya (62%), sedangkan lembaga-lembaga kesehatan komersial lebih memilih menggunakan tongkat Hermes sebagai lambangnya (76%).
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/esculap2.jpg?w=500&h=269
Sebuah lukisan parodi yang menggambarkan Hermes bersama Asclepius dan ketiga putrinya. Pengkajian terakhir memutuskan bahwa simbol kedokteran yang benar adalh tongkat Asclepius bukan tongkat Hermes
Beberapa organisasi yang menggunakan tongkat Asclepius sebagai lambang antara lain Canadian Medical Association (CMA), World Health Organization (WHO), Medical Council of New Zealand dan NZMA. Adapun organisasi yang menggunakan tongkat Hermes sebagai lambangnya antara lain Medcorp dan IUPS. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa tongkat Hermes adalah bagian dari Paganisme.
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/pagan.gif?w=267&h=200
Tongkat Hermes dan simbol Paganisme
Sedangkan di Indonesia sendiri, berbagai organisasi kesehatan yang ada menggunakan tongkat Asclepius sebagai bagian dari lambangnya. Seperti yang terdapat pada lambang IDI, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Pernefri (Nefrologi), PERDAMI, dan lain-lain.
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/perdami.jpg?w=150&h=150
Perdami
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/logo-papdi.jpg?w=150&h=150
PAPDI
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/logo-pdpi.jpg?w=150&h=150
PDPI
http://sectiocadaveris.files.wordpress.com/2010/07/pernefri.jpg?w=150&h=150
Pernefri

Minggu, 09 Oktober 2011

SOLUSI WABAH POLIO & CAMPAK DENGAN AT-TIBB AN-NABAWIY

       
    Kabar berita terhangat hari ini (10/10) di harian Republika adalah Indonesia bersama 11 negara lain di kawasan Asia, mencanangkan 2012 sebagai tahun "intensifikasi imunisasi rutin dalam mencegah wabah polio dan campak", begitulah kalimat terakhir pada berita tersebut. Orang yang beriman mengatakan bahwa “Segala bentuk penyakit datang akibat ulah manusia sendiri maka datanglah penyakit itu dan diizinkan oleh Allah SWT untuk terjangkit kepada manusia, akan tetapi kesembuhan itu datangnya berasal dari Allah SWT, maka kesembuhan dari penyakit itu juga hanya dimintakan kepada-Nya. Dialah Sang Maha Penyembuh bukan yang lain-lainnya, apapun profesi seseorang di bidang keahliannya (dokter, tabib, juru bekam, tukang pijat refleksi dll), mereka hanyalah wasilah datangnya kesembuhan pasien dari penyakitnya yang mendapatkan kehendak (usaha dan doanya terkabul) dari Allah SWT”.
“Dan apabila aku (Ibrahim) sakit. DIAlah yang menyembuhkan aku” (QS Asy-Syu’ara 80).
Datangnya penyakit dalam tubuh seseorang tergantung dengan sugestinya tentang jenis penyakit tersebut, kalau ia berburuk sangka maka Allah SWT akan mengabulkan sesuai dengan sugestinya, sebaliknya kalau ia berbaik sangka maka penyakit itupun tidak akan terjangkit kepadanya. dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman:
يَقُولُ الله تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَناَ مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِى أَتَيتُه هَرْوَلَةً.
aku terserah persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam hatinya, Aku menyebutnya dihati-Ku. Bila dia menyebut-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (H.R. Bukhari Muslim)
Sedangkan orang kafir mengatakan bahwa “Segala bentuk penyakit berasal dari beberapa kasus (sugesti dari penyakit menular, seperti: sakit mata, cacar, TBC; nyamuk; lalat; psikis, dll), kemudian dia berobat minta kesembuhan ke beberapa dokter yang paling spesial  bahkan bertaraf internasionalpun akan diusahakan demi kesehatannya sampai tidak terasa harta bendanya habis bahkan mereka rela didiagnosis oleh dokter akan meninggal pada bulan/minggu tertentu karena kondisi penyakitnya yang sangat parah. Singkat kata mereka hanya memakai logika saja, kalau sakit ini maka obatnya demikian tanpa mengenal siapa yang sesungguhnya membuat penyakit tersebut dan ditambah lagi selalu berburuk sangka terhadap penyebab wabah tersebut sehinga mengklaim bahwa wabah tersebut menular bahkan mematikan”.
 Menilik dari peristiwa yang ada di berita tersebut, sebenarnya Rasulullah SAW telah mengajarkan  kepada umatnya dalam menjaga kesehatan yaitu dengan memperhatikan asupan makanan yang masuk dalam tubuh, diperintahkan untuk meminum madu (juga obat-obatan herbal), berbekam (hijamah), dan membaca ayat-ayat al-quran dan hadits yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. “Kesembuhan itu terdapat pada 3 hal: minum madu, sayatan bekam, dan kay dengan api, sesungguhnya aku melarang umatku dari kay” (shohih bukhori, Ath-Thibb, juz 1 hal, 5680). Nah, di Pondok Modern Darussalam Gontor sebenarnya sudah menerapkan praktek pengobatan ala Nabi SAW, yaitu dengan mengkonsumsi madu, habbat sauda (jintan hitam) sebagai vitamin suplemen makanan tiap hari dengan melihat banyaknya aktivitas, supaya santri sehat bugar, adapun santri yang sakit; sakit ringan (sakit mata, demam, pusing) bahkan berat  (terkena virus GBS atau kelumpuhan pada saraf) dapat disembuhkan dengan terapi bacaan ruqyah syar'iyyah, bekam dan meminum obat herbal. Alhamdulillah dengan praktek ini, Allah SWT memberikan pertolongan kepada santri-santri yang menderita penyakit tersebut pada akhir-akhir ini. 
Ketika wabah polio dan campak dikumandangkan, seolah-olah pendengar kabar itu akan tersugesti kepada kejelekan yang akan membahayakan  kesehatan pribadi maupun orang lain karena menular bahkan mematikan, untuk itu perlu ada pencegahan sejak dini dengan menerapkan hidup sehat ala Nabi SAW. Hendaknya seorang ibu yang sedang mengandung agar mengkonsumsi madu, jintan hitam dan banyak melantunkan ayat-ayat al-quran supaya janin yang akan keluar dari perutnya dan tumbuh besar akan memiliki daya tahan tubuh yang prima termasuk sikap, pola pikir dan mentalnya menjadi qur'ani. perlu diwaspadai datangnya wabah tersebut kemungkinan dari obat-obatan kimia, makanan dan minuman cepat saji, faktor ketakutan ketika bergaul dengan penderita penyakit tersebut sehingga tertular. pada intinya libatkanlah Allah SWT dalam segala urusan duniawi dan ukhrawi urusan niscaya segala pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dan benar, wallohu a'lam bi ash-shawab.

Selasa, 04 Oktober 2011



S E H A T
Dengan Metode Pengobatan Rasulullah SAW
Oleh: Mochamad Lutfi Andriansa, S.Pd.I
Prolog
Di zaman yang serba instan penuh teknologi modern ini, umat muslim hendaknya semakin waspada akan dampak positif dan negatifnya. Terlebih yang perlu diwaspadai adalah pada kesehatan jasmani dan rohani. Rasa syukur kehadirat Allah SWT terkadang terlupakan tatkala seseorang merasa sehat jasmani dan rohaninya. Gaya hidup yang mewah, asal mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obatan terkadang menimbulkan beberapa masalah pada jasmani dan rohani seseorang terkait dengan apa yang telah diperbuat. Dewasa ini, telah muncul beberapa penyakit jasmani dan rohani yang datangnya dari berbagai jenis dan masalah. Dengan demikian, kalau penyakit tersebut telah menyerang pada seseorang, pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk berobat meskipun tidak sedikit berupa harta dan waktunya telah dikorbankan demi kesehatannya. Bersamaan dengan itu rumah sakit, klinik serta balai pengobatan bertambah dalam menanganinya. Namun penyakit-penyakit baru itu semakin menyebar dan bertambah jenisnya, La haula walaa quwwata illa billaahi[1].
Fenomena di atas tersebut terjadi dikarenakan kebanyakan manusia lalai akan membentengi dirinya dari beberapa makanan, minuman, juga obat-obatan yang mereka konsumsi tiap harinya begitu juga bagaimana cara memperolehnya dengan tanpa memfikirkan dampak yang akan terjadi pada kesehatannya. Kalau sudah terserang penyakit atau terdiaknosis suatu penyakit yang berbahaya, maka ia akan mencari dokter yang paling hebat walaupun ke luar negeri akan ditempuhnya demi kesehatannya. Sehingga harta ludes, memakan jangka waktu yang lama, bahkan diprediksi akan mati pada bulan sekian, minggu sekian, hari sekian, na’udzubillah min dzalik. Setelah sekian tahun penyakit tersebut belum juga sembuh maka datanglah ia kepada Tabib ahli pengobatan alternatif ala nabi yang notabenenya seorang mukmin yang ‘alim dan sholih (menyepelekan pengobatan alternatif). Oleh karena itu, tergeraklah hati penulis untuk menulis sebuah makalah yang singkat ini sebagai asumsi dasar untuk mengantarkan pemahaman yang benar tentang “Sehat Dengan Metode Pengobatan Ala Rasulullah SAW”, selebihnya dapat dibaca pada buku-buku yang penulis jadikan referensi pada makalah ini. Untuk memahaminya dibutuhkan beberapa hal berikut: hendaknya menela’ah lagi tentang historis at-thib an-nabawiy, pandai memilih makanan, minuman, obat-obatan yang halal nan thoyyib, memahami pencegahan dan pengobatan penyakit itu sendiri, jangan ragu untuk mempraktekkannya (al-‘ilmu bila ‘amalin ka asy-syajari bila tsamarin).

Jas Merah (Jangan Sampai Melupakan Sejarah)[2]
Jangan Sampai Melupakan Sejarah, merupakan sebuah ungkapan yang singkat namun mempunyai makna yang mendalam sebagai asumsi dasar untuk memahami paradigma sebuah ilmu pengetahuan (historis dari ilmu)  menurut Almarhum KH. Imam Badri. Beliau selalu menyinggung hal-hal historis tentang berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor beserta para pendirinya. Satu tujuan yang dapat penulis ambil adalah agar santri-santri pada masa kini jangan mudah menyerah, harus mempunyai jiwa pejuang karena hidup adalah untuk mempertaruhkan aqidah dan berjihad ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Maka untuk memahami suatu disiplin ilmu pengetahuan yang baru (sehat dengan metode pengobatan ala Rasulullah SAW) harus berlandaskan paradigma historinya.
Pada abad 8 sampai 12 masehi umat islam masih sangat memegang teguh al-qur’an sebagai pedoman hidup mereka sehari-hari, bahkan banyak terlahir disiplin-disiplin ilmu pengetahuan baru yang mencengangkan dunia barat, khususnya daratan eropa pada waktu itu dengan ilmu kedokterannya. Diantara dokter-dokter muslim dengan konsep kedokteran islamnya antara lain: Ali Abbas Al-Majusi, Abu Bakar Ar-Razi, Al-Biruni, Ibnu Ishaq, Ibnu Ruman, Ibnu Maimun, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Sholahuddin Al-Ayyubi, dll. Dalam seminar sehari pelatihan thibbu an-nabawiy bersama Al-Ustadz Faisal Ishaq, ia menyatakan bahwa Ibnu Sina yang selama ini diakui oleh kaum muslimin sebagai Bapak Kedokteran umat islam adalah salah. Karena ia menggunakan metode pengobatan romawi dan orang-orang barat bukan metode pengobatan islami menurut pengobatan Nabi Muhammad SAW[3]. Juga ketika masa kehidupannya, ia sering melanggar kode etik seorang mukmin yang taat kepada sang Kholiq (sering meminum arak/khamr). Lantas, pantaskah ia dinobatkan sebagai Bapak Kedokteran umat islam?. Ini memang usaha orang-orang nasrani dan yahudi untuk menjauhkan umat muslimin dari kitab-Nya, Al-Qur’an. Allah berfirman pada surat Al-Baqarah ayat 120:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Menurut Imam Syafi’i Ilmu yang wajib kita pelajari ada dua yaitu Ilmu syari’at (dirasah islamiyah; tauhid, ushul fiqh, tafsir, hadits, fiqh, dll), dan  Ilmu kedokteran. Dalam kitab thibbu wa l-athibba’, Dr. Mahmud Dayyab, hal. 102, disebutkan bahwa Imam Syafi’i berkata, “Saya tidak mengetahui suatu ilmu setelah ilmu tentang halal dan haram yang lebih penting daripada ilmu kedokteran,” beliau menyayangkan keteledoran kaum muslimin terhadap ilmu kedokteran. Beliau mengatakan, “Mereka mengabaikan sepertiga ilmu dan menyerahkannya kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani[4]”. Padahal saat itu kaum Nasrani sendiri sulit untuk mengembangkan keilmuannya, karena terhambat oleh pendapat dan peraturan gereja yang menyebut pengetahuan modern bertentangan dengan Bibel. Seperti apa yang dilakukan oleh ilmuwan Galileo yang dituntut oleh kalangan gereja hanya karena ia mengikuti penemuan Coppernicus tentang peredaran bumi, yang kemudian ia dihukum dengan alasan menafsirkan bibel secara keliru. Oleh karena itu, kaum nasrani banyak yang meninggalkan agama mereka dan beralih untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu sains dan kedokteran. Sementara saat ini, banyak kaum muslimin yang meinggalkan ajarannya, termasuk dalam bidang kedokteran. Kaum muslimin hanya berkutat pada ibadah harian, sholat, puasa, haji, sehingga sains dan kedokteran dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi, agar umat Islam tertinggal dari segala bidang. Maka ada ungkapan yang mengatakan, taroka al-muslimun adyaanahum fa ta’akhkhoru dan taroka an-nashoro adyaanahum fa taqoddamu. Harus diakui, bahwa kaum muslimin saat ini jarang sekali yang mau mendalami dan mengamalkan ilmu kedokteran warisan Nabi SAW yang sangat lengkap. Di antara sebagian warisan kedokteran Nabi (at-thibbu an-nabawiy) yang dilupakan itu adalah bekam (al-hijamah). Bahkan banyak diantara umat islam yang sama sekali belum pernah mendengar istilah “bekam”, dan ini sangat naif sekali. Karena bekam adalah sebuah kekayaan terpendam, mutiara tersembunyi, dan Sunnah Nabi yang memiliki mukjizat medis yang dahsyat sebagai penyembuh dari segala penyakit dengan izin Allah SWT. Dunia kedokteran pun tercengang dengan model pengobatan bekam ini yang terbukti daya penyembuh segala penyakit, bahkan yang tergolong penyakit akut, seperti penyakit jantung, paru-paru, tumor otak, diabetes, ginjal, radang usus besar, lumpuh (stroke), kemandulan, wasir dan lain sebagainya[5]. Sehingga muncullah para ahli bekam dari daratan Eropa dengan berbagai macam istilah yang mereka pakai yang intinya ini adalah bekam (al-hijamah) warisan dari Rasululllah SAW.
Ketika kaum muslimin mengetahui hal itu, seolah mereka terheran-heran dan mengagung-agungkan bahwa itulah metode pengobatan barat yang canggih. Padahal, ketahuilah itu adalah ilmu yang mereka tinggalkan dan diserahkan kepada orang-orang barat, seperti Imam Syafi’I yang menyayangkan keteledoran kaum muslimin terhadap ilmu kedokteran:
ضَيَعُوا ثُلُثَ العلمِ ووَكَلُواهُ إلى اليهودِ والنصارَى
“mereka (kaum muslimin) mengabaikan sepertiga ilmu (kedokteran) dan menyerahkannya kepada orang-orang yahudi dan nasrani”
Mereka (Nasrani dan Yahudi) sudah memulai misinya untuk menghancurkan umat islam sejak Perang Dunia 1 (PD 1) yang bekerjasama dengan suku bangsa “Aria” (kelompok NAZI yang terdapat di Jerman). Bangsa “Aria” ini menobatkan dirinya sebagai bangsa yang terkuat, terpandai, terhebat dibandingkan dengan bangsa lain. Menurut mereka bangsa lain hanyalah useless and eaters, maka harus dimusnahkan secara perlahan-lahan karena wujud mereka hanya akan menambah sial tanpa ada manfaat. Dengan perantara perang inilah mereka membuat virus yang ditebarkan dengan cara menyemprotkannya kepada beberapa orang yang hendak pergi ke luar negeri di bandara-bandara internasional. Kemudian mereka menyebarkan kabar tentang munculnya virus seperti; H1N1, H5N1 atau yang biasa dikenal dengan flu burung, flu babi. Lantas mereka jugalah yang membuat antibiotiknya untuk diberikan kepada yang terjangkit penyakit tersebut. Dengan cara tersebut, mereka dapat menguasai dunia secara perlahan dengan memberikan racun yang terselubung dalam kehidupan mereka yang tanpa disadari akan membahayakan kesehatan. Perlu diwaspadai tentang anjuran imunisasi bagi balita agar terhindar dari penyakit polio, vitamin-vitamin yang beredar di pasaran, makanan cepat saji (sarimi, indomie, humberger, pizza, fried chicken, kratingdaeng, vitsien, pengawet, dll)[6]. Karena di dalamnya terkandung zat-zat kimia yang perlahan-lahan akan merusak kesehatan jasmani dan rohani (waspadalah !!!). Metode inilah yang paling efektif untuk menjauhkan umat muslim dari al-Qur’annya.
Sebagai mukmin yang taat dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, pantaskah berdiam diri?, atau menerima hal-hal tersebut di atas. Sekali lagi ingatlah dengan firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 120.[7]


[1]Abdullah Bin Abdul Azis al-‘Aidan, Jadilah Dokter Bagi Dirimu Sendiri yang diterjemahkan oleh Abu Tholhah al-Maiwy, (Jakarta: PT. Mirqat Tebar Ilmu, 2008), P. VII.  
[2]Ungkapan dari Presiden Pertama RI Soekarno 
[3] Lihat buku muthola’ah KMI kelas 4 dengan judul Ar-Roiis Ibnu Siina
[4] Ibid, P. 57.
[5] Syihab Al-Badri Yasin, Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis, (Solo: Al-Qowam, 2007), P.XIV.
[6] juga makanan yang mengandung unsur-unsur magic yang dibuat oleh kaum nasrani dan yahudi (sihir makanan)
[7] Faisal Ishaq, Seminar Sehari Pelatihan At-Thibbu an-Nabawiy, Ponorogo: Sabtu, 29 Agustus 2009.

Selasa, 20 September 2011


Pilih Makanan Halal Dan Thoyyib
Zat gizi dari makanan berfungsi sebagai zat yang kita butuhkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kehidupan sekaligus sebagai pembentuk struktur sel dan organ tubuh. Dengan zat gizi pula tubuh dapat membentuk sel-sel keturunan (sperma dan ovum), menumbuhkembangkan hasil pembuahan menjadi janin, kemudian menjadi bayi, dan selanjutnya zat gizi digunakan untuk menumbuhkembangkan bayi menjadi anak, lalu menjadi remaja dan kemudian menjadi dewasa. Karena fungsi tersebut, adalah logis bila Allah SWT memerintahkan kita mengkonsumsi makanan yang halal dan baik (thayyiban) seperti yang tertera dalam Al-Qur’an, antara lain:
Surat al-baqarah ayat 168.
$ygƒr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qè=ä. $£JÏB Îû ÇÚöF{$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÏNºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNä3s9 Arßtã îûüÎ7B
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.
Al-Maidah: 88
(#qè=ä.ur $£JÏB ãNä3x%yu ª!$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# üÏ%©!$# OçFRr& ¾ÏmÎ/ šcqãZÏB÷sãB ÇÑÑÈ  
”dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”.
An-Nahl: 114
(#qè=ä3sù $£JÏB ãNà6s%yu ª!$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ (#rãà6ô©$#ur |MyJ÷èÏR «!$# bÎ) óOçFZä. çn$­ƒÎ) tbrßç7÷ès? ÇÊÊÍÈ  
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.
Menurut Psikolog Prof Dr Dadang Hawari, Makanan dan minuman yang dikonsumsi akan menjadi darah dan daging dalam tubuh. Makanan yang halal dan baik atau halalan thoyyiban merupakan syarat utama saat kita mengonsumsi makanan. Makanan yang halal bisa memberikan perasaan tentram, sedangkan makanan yang haram tidak akan memberikan ketenangan dalam hidup. Halal, disini kata dia, adalah baik makanan itu sendiri maupun dari cara mendapatkannya. Meskipun makanan itu halal dan zat yang terkandung juga halal, tetapi jika diperolah dengan cara yang tidak baik akan menjadi haram. Mengapa makanan halal penting? “karena makanan dan minuman yang kita konsumsi akan menjadi darah dan daging dalam tubuh kita,” ujarnya. Yang dimaksud dengan halal, bukan hanya sekedar halal dalam zatnya, tapi juga halal dalam cara memperolehnya. Halal dalam zatnya, berarti makanan dan minuman tidak terbuat dari bahan makanan yang diharamkan; babi, darah, bangkai, dan sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah (Al Baqarah: 173, Al Maidah: 3, dan An-Nahl: 115). Selain dari itu, minuman yang memabukkan (khamr) seperti alkohol dan Narkoba juga diharamkan Allah swt. (Al Maidah: 90 dan Al Baqarah: 219).
Muslim Indonesia harus memperhatikan bagaimana cara memperoleh makanan dan minuman halalan, thoyyiban. Memperoleh makanan dengan cara yang haram (korupsi, mencuri, merampok, dll.) akan menyebabkan Allah SWT murka kepadanya, seperti diterangkan dalam surat at-Thaha: 81:
(#qè=ä. `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB öNä3»oYø%yu Ÿwur (#öqtóôÜs? ÏmŠÏù ¨@Åsusù ö/ä3øn=tæ ÓÉ<ŸÒxî ( `tBur ö@Î=øts Ïmøn=tã ÓÉ<ŸÒxî ôs)sù 3uqyd ÇÑÊÈ  
makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia.
Perlu pula diingat bahwa seseorang yang sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal atau haram, baik dalam zatnya maupun dalam cara memperolehnya, mempunyai akibat yang berat baginya. Menurut Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan Allah SWT bila dalam makanan, minuman, pakaian terdapat hal-hal yang diharamkan.
Dalam mengkonsumsi makanan, harus diperhatikan peringatan Allah swt. dalam surat Al A’raf: 31, Makan dan minumlah kamu sekalian, tetapi janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai/tidak suka terhadap hal-hal yang melampaui batas.? Jumlah asupan zat gizi dari makanan menurut ilmu gizi ada dua batas, yaitu batas angka maksimum dan batas angka minimum. Bila asupan makanan/minuman kurang dari batas angka minimum akan timbul masalah gizi-kurang seperti kurang energi-protein, kurang vitamin A yang menyebabkan kebutaan, kurang zat besi yang menyebabkan anemia, dll. Batas angka maksimum juga tidak boleh dilampaui. Bila asupan makanan melebihi batas angka maksimum akan timbul pula masalah seperti kegemukan, kolesterol tinggi, asam urat tinggi, dll.[1]
Maraknya peredaran makanan dan minuman cepat saji pada zaman modern ini seharusnya membuat umat muslim agar lebih waspada terhadap dampak positif dan negatifnya. Apakah dampak positif lebih banyak didapat ataukah  sebaliknya?. Waspadalah dengan tercampurnya beberapa makanan, minuman bahkan obat-obatan dengan “minyak atau daging babi”. Karena dapat menimbulkan dampak negatif pada diri manusia yaitu: harga diri manusia hilang (hilangnya rasa malu, gonta-ganti pasangan), jorok (tidak suka kebersihan) dan pembangkang (selalu melanggar disiplin). Oleh sebab itu, babi diharamkan untuk dikonsumsi bagi umat muslim. Ada info dari dr. Sutji M. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa saat ini ada wabah pengerasan otak dan sumsum tulang belakang, sehingga menyarankan untuk menghindari dan mengkonsumsi produk-produk minuman/makanan berikut: extra-joss, M-150, kopi susu gelas, kiranti, kratingdaeng, hemaviton, neo hormoviton, marimas, frutillo, segar sari, pop ice, segar dingin vit. C, okky jelly drink, inaco, gatorade, nabati, adem sari, naturade gold, aqua splash fruit dan tropicanaslim karena mengandung Aspartame (lebih keras dari biang gula) racun yang menyebabkan diabetes, kanker otak dan bisa mematikan sumsum tulang belakang.
Alhamdulillah dan terima kasih kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) yang terus tekun meneliti adanya zat-zat yang diharamkan di dalam makanan, minuman, dan kosmetika yang dikonsumsi banyak masyarakat. Sertifikasi yang dikeluarkan LPPOM MUI dan dicantumkan pada label makanan, minuman, dan kosmetika dapat jadi jaminan kehalalan suatu produk. Sertifikat halal sangat membantu masyarakat dalam memilih makanan, minuman, dan kosmetika sebelum dibeli. Selain makanan itu harus halal, Al-Qur’an menyatakan bahwa makanan itu harus baik (thayyib), sesuai dengan firman Allah swt. dalam Al Qur’an antara lain dalam:
Surat Al-Mu’minun ayat 51 dan
$pkšr'¯»tƒ ã@ߍ9$# (#qè=ä. z`ÏB ÏM»t6Íh©Ü9$# (#qè=uHùå$#ur $·sÎ=»|¹ ( ÎoTÎ) $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×LìÎ=tæ ÇÎÊÈ  
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Surat Al-Baqarah ayat 172:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=à2 `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB öNä3»oYø%yu (#rãä3ô©$#ur ¬! bÎ) óOçFZà2 çn$­ƒÎ) šcrßç7÷ès? ÇÊÐËÈ  
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
 Menurut ilmu gizi, makanan yang baik itu bukan hanya sekedar terbuat dari bahan makanan yang segar, tidak tercemar penyebab penyakit, dan enak dimakan, tetapi makanan itu juga harus mengandung semua zat gizi yang kita butuhkan, yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan air dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan.

Memahami Pencegahan dari Penyakit dan Pengobatannya
Sebelum kita membahas tentang judul dimaksud diatas, maka perlu kita pahami terlebih dahulu dengan sebenar-benarnya definisi “sehat” (kesehatan). Apa yang dimaksud dengan “Sehat”?. Menurut bahasa dari kata shohha yashihhu: dzahaba marodluhu, shihhatun:’adamu i’tilali (marodl) al-jismi wa salamatuhu. Menurut World Health Organization (WHO): “Health is a complete sense of physical, mental and social well being and mot merely the absence of disease or infirmity” atau “Sehat (kesehatan) adalah keadaan yang sempurna (baik) yang meliputi kesehatan fisik (badan), mental (ruhani) dan sosial (moral) dan bukan semata-mata keadaan bebas dari penyakit, cacat, kelemahan”. Dengan demikian jelaslah bahwa sehat atau kesehatan itu mencakup 3 (tiga) hal saling terkait satu sama lainnya sebagai berikut: Kesehatan Badan/Fisik (Jasmani), Kesehatan Mental (Ruhani), Kesehatan Sosial (Moral/Akhlaqul Karimah) al-‘aqlu as-saliim fi al-jismi as-saliim.
Bagaimanakah dengan sakit demam berdarah, Apa disebabkan gigitan nyamuk kemudian membasminya? Kapankah penyakit DBD sering terjangkit pada diri seseorang? Pernahkah umat muslim berfikir lebih mendalam lagi tentang penciptaan nyamuk yang sudah ada di dalam al-quran!, bagaimanakah umat muslim mengimani al-quran yang merupakan rukun iman yang ke-3!.