Pages

Selasa, 04 Oktober 2011



S E H A T
Dengan Metode Pengobatan Rasulullah SAW
Oleh: Mochamad Lutfi Andriansa, S.Pd.I
Prolog
Di zaman yang serba instan penuh teknologi modern ini, umat muslim hendaknya semakin waspada akan dampak positif dan negatifnya. Terlebih yang perlu diwaspadai adalah pada kesehatan jasmani dan rohani. Rasa syukur kehadirat Allah SWT terkadang terlupakan tatkala seseorang merasa sehat jasmani dan rohaninya. Gaya hidup yang mewah, asal mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obatan terkadang menimbulkan beberapa masalah pada jasmani dan rohani seseorang terkait dengan apa yang telah diperbuat. Dewasa ini, telah muncul beberapa penyakit jasmani dan rohani yang datangnya dari berbagai jenis dan masalah. Dengan demikian, kalau penyakit tersebut telah menyerang pada seseorang, pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk berobat meskipun tidak sedikit berupa harta dan waktunya telah dikorbankan demi kesehatannya. Bersamaan dengan itu rumah sakit, klinik serta balai pengobatan bertambah dalam menanganinya. Namun penyakit-penyakit baru itu semakin menyebar dan bertambah jenisnya, La haula walaa quwwata illa billaahi[1].
Fenomena di atas tersebut terjadi dikarenakan kebanyakan manusia lalai akan membentengi dirinya dari beberapa makanan, minuman, juga obat-obatan yang mereka konsumsi tiap harinya begitu juga bagaimana cara memperolehnya dengan tanpa memfikirkan dampak yang akan terjadi pada kesehatannya. Kalau sudah terserang penyakit atau terdiaknosis suatu penyakit yang berbahaya, maka ia akan mencari dokter yang paling hebat walaupun ke luar negeri akan ditempuhnya demi kesehatannya. Sehingga harta ludes, memakan jangka waktu yang lama, bahkan diprediksi akan mati pada bulan sekian, minggu sekian, hari sekian, na’udzubillah min dzalik. Setelah sekian tahun penyakit tersebut belum juga sembuh maka datanglah ia kepada Tabib ahli pengobatan alternatif ala nabi yang notabenenya seorang mukmin yang ‘alim dan sholih (menyepelekan pengobatan alternatif). Oleh karena itu, tergeraklah hati penulis untuk menulis sebuah makalah yang singkat ini sebagai asumsi dasar untuk mengantarkan pemahaman yang benar tentang “Sehat Dengan Metode Pengobatan Ala Rasulullah SAW”, selebihnya dapat dibaca pada buku-buku yang penulis jadikan referensi pada makalah ini. Untuk memahaminya dibutuhkan beberapa hal berikut: hendaknya menela’ah lagi tentang historis at-thib an-nabawiy, pandai memilih makanan, minuman, obat-obatan yang halal nan thoyyib, memahami pencegahan dan pengobatan penyakit itu sendiri, jangan ragu untuk mempraktekkannya (al-‘ilmu bila ‘amalin ka asy-syajari bila tsamarin).

Jas Merah (Jangan Sampai Melupakan Sejarah)[2]
Jangan Sampai Melupakan Sejarah, merupakan sebuah ungkapan yang singkat namun mempunyai makna yang mendalam sebagai asumsi dasar untuk memahami paradigma sebuah ilmu pengetahuan (historis dari ilmu)  menurut Almarhum KH. Imam Badri. Beliau selalu menyinggung hal-hal historis tentang berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor beserta para pendirinya. Satu tujuan yang dapat penulis ambil adalah agar santri-santri pada masa kini jangan mudah menyerah, harus mempunyai jiwa pejuang karena hidup adalah untuk mempertaruhkan aqidah dan berjihad ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Maka untuk memahami suatu disiplin ilmu pengetahuan yang baru (sehat dengan metode pengobatan ala Rasulullah SAW) harus berlandaskan paradigma historinya.
Pada abad 8 sampai 12 masehi umat islam masih sangat memegang teguh al-qur’an sebagai pedoman hidup mereka sehari-hari, bahkan banyak terlahir disiplin-disiplin ilmu pengetahuan baru yang mencengangkan dunia barat, khususnya daratan eropa pada waktu itu dengan ilmu kedokterannya. Diantara dokter-dokter muslim dengan konsep kedokteran islamnya antara lain: Ali Abbas Al-Majusi, Abu Bakar Ar-Razi, Al-Biruni, Ibnu Ishaq, Ibnu Ruman, Ibnu Maimun, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Sholahuddin Al-Ayyubi, dll. Dalam seminar sehari pelatihan thibbu an-nabawiy bersama Al-Ustadz Faisal Ishaq, ia menyatakan bahwa Ibnu Sina yang selama ini diakui oleh kaum muslimin sebagai Bapak Kedokteran umat islam adalah salah. Karena ia menggunakan metode pengobatan romawi dan orang-orang barat bukan metode pengobatan islami menurut pengobatan Nabi Muhammad SAW[3]. Juga ketika masa kehidupannya, ia sering melanggar kode etik seorang mukmin yang taat kepada sang Kholiq (sering meminum arak/khamr). Lantas, pantaskah ia dinobatkan sebagai Bapak Kedokteran umat islam?. Ini memang usaha orang-orang nasrani dan yahudi untuk menjauhkan umat muslimin dari kitab-Nya, Al-Qur’an. Allah berfirman pada surat Al-Baqarah ayat 120:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Menurut Imam Syafi’i Ilmu yang wajib kita pelajari ada dua yaitu Ilmu syari’at (dirasah islamiyah; tauhid, ushul fiqh, tafsir, hadits, fiqh, dll), dan  Ilmu kedokteran. Dalam kitab thibbu wa l-athibba’, Dr. Mahmud Dayyab, hal. 102, disebutkan bahwa Imam Syafi’i berkata, “Saya tidak mengetahui suatu ilmu setelah ilmu tentang halal dan haram yang lebih penting daripada ilmu kedokteran,” beliau menyayangkan keteledoran kaum muslimin terhadap ilmu kedokteran. Beliau mengatakan, “Mereka mengabaikan sepertiga ilmu dan menyerahkannya kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani[4]”. Padahal saat itu kaum Nasrani sendiri sulit untuk mengembangkan keilmuannya, karena terhambat oleh pendapat dan peraturan gereja yang menyebut pengetahuan modern bertentangan dengan Bibel. Seperti apa yang dilakukan oleh ilmuwan Galileo yang dituntut oleh kalangan gereja hanya karena ia mengikuti penemuan Coppernicus tentang peredaran bumi, yang kemudian ia dihukum dengan alasan menafsirkan bibel secara keliru. Oleh karena itu, kaum nasrani banyak yang meninggalkan agama mereka dan beralih untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu sains dan kedokteran. Sementara saat ini, banyak kaum muslimin yang meinggalkan ajarannya, termasuk dalam bidang kedokteran. Kaum muslimin hanya berkutat pada ibadah harian, sholat, puasa, haji, sehingga sains dan kedokteran dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi, agar umat Islam tertinggal dari segala bidang. Maka ada ungkapan yang mengatakan, taroka al-muslimun adyaanahum fa ta’akhkhoru dan taroka an-nashoro adyaanahum fa taqoddamu. Harus diakui, bahwa kaum muslimin saat ini jarang sekali yang mau mendalami dan mengamalkan ilmu kedokteran warisan Nabi SAW yang sangat lengkap. Di antara sebagian warisan kedokteran Nabi (at-thibbu an-nabawiy) yang dilupakan itu adalah bekam (al-hijamah). Bahkan banyak diantara umat islam yang sama sekali belum pernah mendengar istilah “bekam”, dan ini sangat naif sekali. Karena bekam adalah sebuah kekayaan terpendam, mutiara tersembunyi, dan Sunnah Nabi yang memiliki mukjizat medis yang dahsyat sebagai penyembuh dari segala penyakit dengan izin Allah SWT. Dunia kedokteran pun tercengang dengan model pengobatan bekam ini yang terbukti daya penyembuh segala penyakit, bahkan yang tergolong penyakit akut, seperti penyakit jantung, paru-paru, tumor otak, diabetes, ginjal, radang usus besar, lumpuh (stroke), kemandulan, wasir dan lain sebagainya[5]. Sehingga muncullah para ahli bekam dari daratan Eropa dengan berbagai macam istilah yang mereka pakai yang intinya ini adalah bekam (al-hijamah) warisan dari Rasululllah SAW.
Ketika kaum muslimin mengetahui hal itu, seolah mereka terheran-heran dan mengagung-agungkan bahwa itulah metode pengobatan barat yang canggih. Padahal, ketahuilah itu adalah ilmu yang mereka tinggalkan dan diserahkan kepada orang-orang barat, seperti Imam Syafi’I yang menyayangkan keteledoran kaum muslimin terhadap ilmu kedokteran:
ضَيَعُوا ثُلُثَ العلمِ ووَكَلُواهُ إلى اليهودِ والنصارَى
“mereka (kaum muslimin) mengabaikan sepertiga ilmu (kedokteran) dan menyerahkannya kepada orang-orang yahudi dan nasrani”
Mereka (Nasrani dan Yahudi) sudah memulai misinya untuk menghancurkan umat islam sejak Perang Dunia 1 (PD 1) yang bekerjasama dengan suku bangsa “Aria” (kelompok NAZI yang terdapat di Jerman). Bangsa “Aria” ini menobatkan dirinya sebagai bangsa yang terkuat, terpandai, terhebat dibandingkan dengan bangsa lain. Menurut mereka bangsa lain hanyalah useless and eaters, maka harus dimusnahkan secara perlahan-lahan karena wujud mereka hanya akan menambah sial tanpa ada manfaat. Dengan perantara perang inilah mereka membuat virus yang ditebarkan dengan cara menyemprotkannya kepada beberapa orang yang hendak pergi ke luar negeri di bandara-bandara internasional. Kemudian mereka menyebarkan kabar tentang munculnya virus seperti; H1N1, H5N1 atau yang biasa dikenal dengan flu burung, flu babi. Lantas mereka jugalah yang membuat antibiotiknya untuk diberikan kepada yang terjangkit penyakit tersebut. Dengan cara tersebut, mereka dapat menguasai dunia secara perlahan dengan memberikan racun yang terselubung dalam kehidupan mereka yang tanpa disadari akan membahayakan kesehatan. Perlu diwaspadai tentang anjuran imunisasi bagi balita agar terhindar dari penyakit polio, vitamin-vitamin yang beredar di pasaran, makanan cepat saji (sarimi, indomie, humberger, pizza, fried chicken, kratingdaeng, vitsien, pengawet, dll)[6]. Karena di dalamnya terkandung zat-zat kimia yang perlahan-lahan akan merusak kesehatan jasmani dan rohani (waspadalah !!!). Metode inilah yang paling efektif untuk menjauhkan umat muslim dari al-Qur’annya.
Sebagai mukmin yang taat dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, pantaskah berdiam diri?, atau menerima hal-hal tersebut di atas. Sekali lagi ingatlah dengan firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 120.[7]


[1]Abdullah Bin Abdul Azis al-‘Aidan, Jadilah Dokter Bagi Dirimu Sendiri yang diterjemahkan oleh Abu Tholhah al-Maiwy, (Jakarta: PT. Mirqat Tebar Ilmu, 2008), P. VII.  
[2]Ungkapan dari Presiden Pertama RI Soekarno 
[3] Lihat buku muthola’ah KMI kelas 4 dengan judul Ar-Roiis Ibnu Siina
[4] Ibid, P. 57.
[5] Syihab Al-Badri Yasin, Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis, (Solo: Al-Qowam, 2007), P.XIV.
[6] juga makanan yang mengandung unsur-unsur magic yang dibuat oleh kaum nasrani dan yahudi (sihir makanan)
[7] Faisal Ishaq, Seminar Sehari Pelatihan At-Thibbu an-Nabawiy, Ponorogo: Sabtu, 29 Agustus 2009.